BAB II

KEADAAN GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

KECAMATAN WANARAYA

2.1. Keadaan Geografis

Desa-desa tranmigrasi di batola itu tersebar di 10 kecamatan yaitu kecamatan wanaraya, carbon, rantau badauh, barambai, belawang, manadastana, tabunganen, tamban, mekarsari, anjir muara dan anjir pasar, yang paling banyak kontribusinnya di bidang produksi beras ada olah kecamatan barambai dan belawang.

Secara astronomi  Daerah tingkat II barito kuala terletak antara LS : 20-29’50’’ sampai 30 30’ 18’’ B.T: 1140 20’  50’’ – 1140 50’ 18’’   dengan  ketinggian 0.2 sampai 3 m diatas permukaan air laut. Batas kabpaten daerah tingkat II barito kuala : sebelah Utara Kabupaten Hulu Sungai Selatan Dan Tapin, Sebelah Timur Kabupaten Banjar Dan Kodya Banjarmasin, sebelah selatan laut jawa, sebelah barat : Propinsi Dati 1 Kal-Teng (Kabupaten Kapuas), luas daeerah ini adalah 2,996,96 Km2 yang terdiri dari 14 kecamatan

Kalimantan selatan sitinjau dari segi iklimnnya sama dengan daerah lain di Indonesia yakni termsuk iklim tropis daerah ini mendapat pengaruh angin musim barat, barat laut dan angin musim timur dan tenggara.proyek tranmigrasi pasang surut

Proyek tranmigrasi barambai merupakan proyek tranmigrasi pasang surut yang dibuka sejak tahun 1970  Selama pelita 1 di sediakan untuk menempatkan tranmigrasi. Proyekini terletak 1,5 Km sebelah baratsungaI barito, maka proyek barambai terletak didesa barambai terletak didesa barambai, adapaun barambai terletak diantara Banjarmasin dan marabahan, jarak antara barambai dan banjar masih 40 km, sedangkan marabahan terletak 55 km.

Kolam kiri merupakan daerah rawa-rawa pasang surut yang dipengaruhi gerak langsung dan tidak langsung  dari permukaan air laut. Pada saat pasang air sungai meluap kedaerah rawa-rawa sekitarnnya dan waktu surut kembali kesungai sehinga terjadi proses pencucian terhadap daerah-daerah rawa. Hal tersebut dapat mengurangi keasaaman tanah sehingga dapat digunakan tujuan pertanian. tinggi permukaan air antara pasang dan surut sekitar 130- 140 cm, diadmping tanaaman padi, jagung dan ubi kayu juga telah ditanam pula berbagai macam tanaman keras seperti misalnnya kelapa, cengkeh kopi, jeruk,karet,kelapa sawit dan rambutan serta nangka.

2.1.1. keadaan demografi

Jumlah penduduk yang ditemukan hanya jumlah penduduk wanaraya dan daerah yang terlihat dalam tabel ini yaitu jumlah penduduk wanaraya dan sidomulyo tahun 2006 sampai dengan 2009

Table   : 1. Jumlah penduduk menurut kelompok umur di Kabupaten Marabahan

KELOMPOK UMUR

JENIS           KELAMIN

JUMLAH

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

0-4

16.063

13.167

29.033

5-9

11.903

12.668

24.414

10-14

13.809

12.030

26.707

15-19

12.231

11.560

23.591

20-24

12.198

14.258

26.482

25-29

13.558

13.784

27.293

           30-34

10.962

13.807

24.671

             35-39

            12.139

            13.029

             24.714

40-44

91.50

84.89

17.226

45-49

64.74

85.00

14.561

50-54

6.336

5.610

11.387

55-59

4.562

5.059

9.110

60-64

2.962

3.040

5.633

65-69

1.614

1.505

3.057

       

2.1.2 iklim dan hidrologi

Curah hujan merupakan salah satu indicator wilayah untuk mengetahui  kondisi tanah dalam suatu wilayah. Keadaan cuaca ini banyak mempengaruhi semua kegiatan pembangunan, baik yang berhubungan langsung dengan kegiatan yang bersangkutan dengan wadah pembangunan itu sendiri yang berupa tanah. Tercatat curah hujan rata-rata berkisar antara mm/tahun atau  mm/bulan atau 161 mm/bulan. Menurut klasifikasi iklim oldeman,kabupaten marabahan berada pada kelas C2, C3, dan D3 dengan ranking kebebasan antara 5-8 keadaan iklim di kabupaten Marabahan dipengaruhi dua musim yaitu musim hujan dan musim panas. musim hujan terjadi antara bulan November hingga bulan april denagn temperatur 170C. sedangkan musim panas terjadi antara bulan juni hingga bulan November dengan temperatur mencapai 350C. kelembapan udara berkisar antara 51% sampai dengan 86 % kondisi hidrologi di wilayah wanaraya  dipengaruhi oleh sungai barito (beserta anak-anaknnya sungai) yang merupakan anak sungai

Kondisi hidrologi juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi draenase tanah yang ada wilayah tapin. Hampir sebagian besar wilayah wanaraya tergenang secara permanen yaitu berupa rawa dengan luas wilayah sekitar  hektar atau 61% dari total luas wilayah tapin.wilayah yang tidak pernah tergenang air

1.1.3        Keadaan Ekonomi

Kemajuan perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari PDRB yang dihasilkan oleh daerah tersebut. Selama tahun 2008. Kabupaten tapin mampu menghasilkan nilai tambah bruto ADHB sebesar Rp. 3.033.436.61 Dan ADHK sebesar Rp.1829.055.09. Dengan pertumbuhan mencapai,  sedangkan PDRB perkapita ADHB mencapai  Rp.2.211.322.10/jiwa/tahun dan PDRB perkapita ADHK mencapai Rp,1.315.551.25/jiwa/tahun. Perekonomian kabupaten didukung oleh sector pertanian dengan sumbangan sebesar 50%, pertambangan dan penggalian (20      %) dan jasa ( 10 %). Pada tahun 2010, dapat dilihat bahwa semua sector mengalami pertumbuhan yang positif. Sector dengan pertumbuhan tertinggi adalah banyak dan lembaga keuangan sebesar 70/0,  dan bangunan  (5 %). Sedangkan sektor pertanian  menunjukan pertumbuhan terendah sebesar 5%. (Monografi desa kecamatan wanaraya kabupaten marabahan) jumlah penduduk menurut jenis kelamin  wanaraya yaitu laki-lakinnya pada tahun 2002 wanaraya laki-laki 6.634 perempuan 6.428, pda tahun 2006.

 

 

 

 

 

2.1.4 Keadaan Unit Pemukiman Tranmigrasi desa wanaraya

Desa tranmigrasi kecamatan wanaraya pada awalnnya berdiri pada tahun 1995 dengan luas wilayah 37,56 Km2. Mulannya daerah ini berbentuk UPT dan Unit pemukiman Tranmigrasi dan belum berbentuk desa. Secara astronomis terletak pada 140 20’50’’BT- 114’50 18”BT-2 29’50”LS-3 30’18”LS.

Selain itu bila dilihat secara ekonomis letak pemukiman Tranmigrasi Kecamatan Wanaraya ini + 2 km dari ibu kota kecamatan ­,  19 km dari ibu kota kabupaten, +110 km dari ibu kota propinsi.

Batas-batas desa tranmigrasi kecamatan wanaraya ini adalah sebagai berikut:

1           sebelah utara dengan Kecamatan Tabukan,

2           sebelah selatan dengan Kecamatan Anjir Muara dan Kecamatan Anjir Pasar,

3           sebelah timur dengan Kecamatan Barambai dan Kecamatan Belawang,

4           sebelah barat dengan Kab. Kapuas Prov. Kalimatan Tengah.

Luas daerah menurut kelurahan yaitu/ desa kecamatan wanaraya, Daerah Kolam-Kiri 2.50, Jumlah  bangunan tempat tinggal berdasarkan desa dan kualitas bangunan yaitu deda kolam kiri bangunan permanennya 42 buah, bangunan semi permanenya 116 yang tidak permanen 261 buah dan jumlahnnya bangunan itu adalah 419 buah.

Mata pencaharian penduduk tranmigrasi Desa Kolam-Kiri sebagian besar adalah pegawai negeri, TNI, Polri, perpetani karet dan petani bahan pangan karena memang kontur daerahnnya yang berjenis lempung atau kriston dan berstektur kasar   dan mempunyai tingkat kesuburan yang sedang.

Fasilitas-fasilitas yang ada di desa tranmigrasi kolam kiri ini adalah sebagai berikut:

  1. balai desa, kantor desa, masjid, musholla, sekolah
  2. jalan desa
  3. jalan kabupaten
  4. bendungan/tabat/ dam 1 buah

 

bentuk desa dari segi tata ruang, desa Tranmigrasi Kolam Kiri ini adalah mengelompok dan bergelombang, sehingga pada musim kemarau Desa Kolam Kiri cukup kesulitan untuk mendapatkan air bersih, apalagi kebanyakan air sumur yang sangat masam, topografi atau bentuk pemukiman tanah desa Kolam Kiri ini adalah datar (0 O/O sampai dengan 0,5O/O bergelombang (8O/O sampai dengan 30 O/O), berbukit (3O/O sampai dengan 15 O/O), lain-lain( 0O/O sampai dengan 15O/O) factor iklim yang

Curah hujan tahunan                :  10-20 mm

Curah hujan bulanan                 :   8 mm

Kelembapan udara rata-rata     :         O/O

Suhu/temperatur udara             :

Musim hujan                             :

Musim kemarau                        :

Tata guna air di gunakan untuk sumber air keperluan sehari-hari, masyarakat Desa Kolam Kiri menggunakan air sungai dan air sumur galian,  air hujan dan air bekas galian tanah liat atau lempung. saat ini desa tranmigrasi kolam kiritelah berstatus eks tranmigrasi.

Pemilihan `lahan perkebunan yaitu ada 100 keluarga, dan tidak memiliki 200 keluarga dan luas wilayah menurut penggunaan yaitu luas daerah kolam kiri yaitu 280 ha dan banyak luas perkebunan 8 ha/m2 dan banyak luas perkebunan 8 ha, dan banyak lagi luas kuburan 1,5 ha/\m2 dan perkantorannya 5 ha/m2.

                Pemukiman lahan perkebunan jumlah keluarga memiliki tanah perkebunan 100 keluarga dan lebih banyak tidak memiliki 200 keluarga  jumlah keluarga memiliki tanah perkebunan dan memiliki kurang dari 5 ha 700 keluarga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

LATAR BELAKANG MUNCULNNYA TRANMIGRASI DI KABUPATEN MARABAHAN

 

2.1.Latar Belakang Umun Dibukannya Unit Pemukiman Tranmigrasi

Tranmigrasi pada dasarnnya merupakan pembangunan wilayah dalam rangka peningkatan taraf hidup serta pemanfaatan sumber daya alam dan manusia dalam menciptakan kesatuan dan persatuan bangsa melalui program terpadu dan lintas sektoral. Menurut undang-undang nomor 3 tahun 1972 tentang ketentuan-ketentuan pokok tranmigrasi, yang dimaksud tranmigrasi adalah pemindahan atau kepindahan penduduk dari satu daerah untuk menetap kedaerah lain yang ditetapkan dalam wilayah republik Indonesia guna kepentingan pembangunan Negara atau atas alasan-alasan yang dipandang perlu oleh pemerintah berdasarkan ketentuan-ketentuan yang diatur oleh undang-undang.

Dalam perkembangannya semenjak masih bernama kolonialisme di zaman pemerintahan Hindia Belanda, zaman kemerdekaan dan tahap-tahap awal repelita, kebijakan tranmigrasi lebih bersifat demografi sentris. Indonesia adalah Negara yang subur dan memliki banyak kekayaan yang melimpah. potensi keanekaragaman hayati tersebut merupakan salah satu yang terbesar di dunia setelah Zaire dan brazil. Kekayaan sumber daya alam ini adalah anugerah dari sang pencipta yang harus bisa dimanfaatkan seefesien mungkin untuk besar-besarnnya kemakmuran rakyat. Untuk dapat memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah tersebut, pasti diperlukan sumber daya manusia yang melimpah pula. namun sayangnnya potensi sumber daya mannusia itu.

Pola tranmigrasi sebenarnnya sudah cukup lama di kenal oleh bangsa Indonesia. Menurut sejarah, program tranmigrasi awalnnya di selenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa penjajahan dengan nama kolonialisasi pertanian. Pada masa itu secara tidak langsung pemerintahan kolonial belanda telah menerapkan pola tranmigrasi dengan membawa banyak orang pribumi untuk melakukan ekspansi ke pulau-pulau yang memiliki potensi sumber daya alam yang banyak.

Kebijakan mengenai ketranmigrasi diatas, jelas bahwa tranmigrasi  adalah suatu program yang sangat bijak dalam mengatasi masalah kependudukan. Tujuan utama tranmigrasi sesuai dengan pengertiannya adalah dalam rangka penyebaran penduduk yang merata di seluruh wilayah Indonesia, selain itu, tujuan lain dari tranmigrasi sesuai dengan konteks kehidupan bangsa Indonesia saat ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja baru di sector informal, mengembangkan potensi sumber daya alam.

Factor-faktor penyebab dilaksanakannya tranmigrasi

  1. Faktor kependudukan, Indonesia mengalami permasalahan di antarannya persebaran penduduk yang tidak merata. Penduduk Indonesia 61,1 0/0, tinggal di pulau jawa dan Madura, sedang luas pulau Jawa dan Madura hanya 6,90/0 dari luas seluruh wilayah Indonesia, jelas bahwa pulau jawa berpenduduk sangat padat, sedang pulau-pulau lain, seperti pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan iriyan jaya berpenduduk sedikit.oleh karena itu
  2. Faktor ekonomi, sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor pertanian, sedang para petani di jawa rata-rata hanya memiliki lahan 0,3 hektar. Petani karet sebagai komuditas pertama dan padi dan masih banyak menjadi penjual sayur-mayur dipasar.
  3. Faktor lain dilakasanakannya tranmigrasi adalah karena bencana alam, daearahnya rawan terhadap bencana alam, daearahnya terkena proyek pembangunan misalnnya akan  dibangun waduk.

2.2. Awal Penempatan Dibukannya UPT Desa Kolam Kiri Kecamatan Wanaraya Kabupaten Marabahan    

Selain karena kurangnnya jumlah penduduk di kecamatan wanaraya, yang menjadi alasan pemerintah pusat untuk menjadikan kecamatan wanaraya sebagai tujuan tranmigrasi alasan pemerintah pusat untuk menjadikan Kabupaten Marabahan sebagai tujuan tranmigrasi, daerah tujuan tranmigrasi di kabupaten marabahan

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PERKEMBANGAN EKONOMI SOSIAL DI DESA TRANMIGRASI DESA KOLAM KIRI  KECAMATAN WANARAYA KABUPATEN MARABAHAN

 

4.1 Perkembangan Perekonomian Desa Tranmigrasi Kolam Kiri

Perkembangan perekonomian Di Desa Kolam Kiri dibagi menjadi enam periode yang dimulai dari tahun dari tahun awal berdiri atau penempatannya yaitu tahun 1983. Adapun pembagian tahap perkembangan perekoonomian desa Kolam Kiri terbagi sebagai berikut:

4.1.1. periode pertama :        tahap penempatan

Merupakan tahap awal penempatan para tranmigrasi yang berasal dari luar daerah dan sebagian besar berasal dari pulau jawa dan sekitar Kalimantan. Pada tiga tahun pertama para tranmigran sedang dalam masa adaptasi, sehingga mata pencaharian utama para penduduk didesa utama para penduduk di desa kolam kiri ini adalah bertani dan berkebun. Dalam masa konsolidasi

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s