sejarah maritim

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Indonesiaadalah salah satu negara terbesar di dunia berdasarkan jumlah penduduk dan luas wilayahnya. Indonesia juga merupakan Negara kapulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.508 buah pulaunya. Luas wilayah Indonesia seluruhnya mencapai 5.193.252 km2[1]. Pulau-pulau utamanya adalah Jawa dan Madura (132.187 Km2), Sumatra (473.600 Km2), Kalimantan (539.460 Km2), Sulawesi (189.216 Km2), Bali (5.561 Km2), dan Irian Jaya (422. 981 Km2). Sangat menarik sekali apabila sebuah negara kepulauan dengan pulau-pulau utamanya yang mampu menjadikan kelutan sebagai penghasilan bagi daerah yang bersangkutan dan negara Indonesia. Nanti dalam makalah ini akan menyajikan khusus tentang potensi ekonomi yang dihasilkan dari kepulauan yang notabenenya adalah Kemaritiman dan kebaharian.

Sebagai pelengkap dari latar belakang dalam tugas Sejarah Maritim ini kami sedikit menceritakan sosok manusia yang notabene sebagai pengendali dari sebuah kebaharian dan kemaritiman dari kepulauan Indonesia, dimana manusia dilahirkan sebagai makhluk yang hidup di daratan, tidak seperti ikan, mamalia air, dan hewan-hewan air lainnya. Tapi manusia juga dibekali dengan kemampuan beradaptasi yang sangat tinggi yang salah satunya disebabkan oleh adanya akal budi. Selain itu, dalam kaitanya dengan dunia maritim, pada umumnya manusia itu adalah makhluk yang fisiknya secara relatif bersifat “waterproof” dan “tahan korosi”, dimana dia tetap berfungsi dalam keadaan basah dan terendam air laut sampai batas-batas tertentu.

Tidaklah berlebihan jika secara umum manusia adalah salah satu mahluk darat yang termasuk dalam katergori “marine grade”. Dengan kondisi manusia seperti itu maka manusia sebagai makhluk yang hidup di darat tertantang untuk keluar dari daratan untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi dunia maritim beserta sumber dayanya sambil terus memelihara kelestarian lingkungan hidupnya. Ketika berkegiatan di dunia maritim dan laut pada khususnya manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan fisik sehingga potensi kemampuan adaptasi menjadi sangat dominan untuk berperan agar manusia bisa bertahan dan beraktivitas di laut. Perpaduan antara keinginan untuk berkegiatan di laut dan kemampuan adaptasi tersebutlah yang menciptakan berbagai kegiatan maritim (sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain-lain). Manusia menciptakan cara-cara dan alat-alat untuk dapat menunjang keinginannya untuk berkegiatan di dunia maritim.

Indonesia merupakan negara maritim[2] antara negara kepulauan dan negara bahari,[3] dimana duapertiga wilayahnya merupakan perairan (laut). Dan cerita-cerita sejarah sering menyisipkan betapa gagah beraninya bangsa Indonesia melalui kerajaan sudah sampai ke negara lain.

Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas tentang negara Indonesia sebagai negara  maritim antara negara kepulauan dan negara bahari serta potensi ekonominya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.2  Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam makalah ini sebagai berikut:

  1. Bagaimana gambaran negara Indonesia sebagai negara maritim antara negara kepulauan?
  2. Bagaimana gambaran negara Indonesia sebagai negara maritim antara negara bahari?
  3. Bagaimana potensi ekonomi yang dihasilkan negara Indonesia sebagai negara maritim dan negara bahari?

 

 

            Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengkaji lebih dalam tentang negara Indonesia sebagai negara maritim antara negara kepulauan dan negara bahari.
  2. Untuk memahami tentang potensi ekonomi negara Indonesia sebagai negara    maritim dan negara bahari.
  3. Untuk menambah wawasan tentang kelautan negara Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

                                                                            

2.1  Indonesia Negara Maritim Antara Negara Kepulauan

Perjalanan panjang sejarah maritim Indonesia hampir sama tua-nya dengan perkembangan peradaban suku anak bangsa di Nusantara. Perjalanan panjang sejarah itu, telah memperkaya hasanah bahasa dan mewarnai budaya bangsa Indonesia.
Perkembangan peradaban suku bangsa maritim di Nusantara itu tidak terlepas dari berkembang masuknya suku bangsa lain ke Phã-mnalä-yû dengan membawa berbagai corak dan warna budaya daerahnya masing-masing.

Perjalanan panjang sejarah maritim Nusantara ini menunjukkan bahwa, ada dua negeri yang pernah dikunjungi bangsa India dan Cina[4] pada eksodus pertama pada tahun 264 hingga 195 SM. Pendatang asing ini umumnya telah memiliki berbagai tingkat keterampilan dibidang kelautan, pertukangan, pertanian, serta memiliki seni budaya yang jauh lebih tinggi dari penduduk pribumi. Negeri yang pertama dikunjunginya adalah Phalimbham di Provinsi Banten dan Lu-Shingshe di Provinsi Bengkulu. Dua negeri ini sama-sama banyak menghasilkan emas (pertama kali) yang ditemukan oleh bangsa pendatang di Nusantara.

Berdasarkan berbagai teori sosiologi – antropologi – arkeologi telah mengajarkan kepada kita bahwa, “Peradaban manusia itu selalu berawal dari kehidupan sekelompok manusia dipesisir pantai atau sungai. Selanjutnya berkembang menjadi komunitas masyarakat yang semula homogen, berubah menjadi heterogen. Dalam suatu masyarakat pergaulan yang lebih besar berbentuk bangsa (Nasional) dan selanjutnya berkembang menjadi antara bangsa-bangsa (Internasional)”.

Kedatangan bangsa-bangsa asing ini, juga tidak terlepas dari berbagai kepentingan-kepentingan. Secara geologi dan geografis negeri-negeri di Nusantara ini telah dikunjungi oleh bangsa-bangsa asing. Secara umum ada tiga bentuk alasan untuk itu. Pertama, mencari tambang emas. Kedua, perpindahan penduduk (Exsodus) akibat bencana alam. Baik vulkanis maupun tektonis, akibat terjangkitnya wabah penyakit, dan perang. Ketiga, meningkatnya hubungan perdagangan. Dalam pelayaran yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, mereka selalu membuat sebauh catatan tentang pelaayaran yang dilakukan oleh mereka seperti halnya Peta Pelayaran[5].

Bila kita dilihat dari peta yang ada , tampak dengan jelas bahwa rute pelayaran melintasi Selat Sunda telah lama dilakukan oleh pelaut-pelaut India, Arab (Asia dan Afrika) yang akan menuju ke negeri Cina. Mereka biasanya singgah dulu di Phalimbham dan pulau Panaitan serta Kota Perak yang berada di Provinsi Banten sekarang, sebelum meneruskan perjalanan pelayarannya ke negeri yang hendak ditujunya. Rute Laut merupakan salah satu rute perjalanan menuju Cina, disamping melalui darat. Para Pedagang lebih banyak memilih rute laut dari pada darat karena pertimbangan keamanan. Selain itu, rute darat menuju Cina biayanya lebih mahal dan barang yang dibawapun sangat terbatas jika dibandingkan melalui pelayaran.

Hal yang sama juga terjadi di Selat Malaka, dimana sejak dulu diketahu, kalau rute ini tidak aman (Karena prompak atau bajak laut) Thailand, Malayu dan bajak laut Cina di Nan Yang atau Nan Hai                                                      .
Lintas Selat Sunda kelihatannya lebih aman, karena rute ini banyak dilayari kapal layar pedagang-pedagang dari berbagai negara yang hendak menuju Phalimbham dan Tarumanagara. Kata Phalimbham atau Phalembhang di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), sering digunakan secara rancu oleh para peneliti atau penulis sejarah. Phalimbham yang berada di Provinsi Banten ini merupakan negeri yang pertama disinggahi oleh nenek moyang dinasti Tarumanagara, sedangkan Phalimbham atau Phalimbhang di Sumbagsel.

Ini merupakan sejarah dari maritim Indonesia pada abad dulu. Dilihat dari sejarah tersebut apakah negara Indonesia masih menyandang predikat seabagai negara Maritim yang telah dikenal oleh orang luar pada masa sebelum Masehi. Dalam beberapa bulan ini, Maritim Indonesia masih menjadi perbincangan para polotisi, dimana pada saat adanya pemilihan presiden yang terjadi pada beberapa bulan yang lalu,dari semuanya ini kita dapat melihat bahwa, kemaritiman Indonesia masih sangat kurang diperhatikan oleh pemimpin negara ini.[6]

Indonesia sebagai negara Maritim dalam kepulauan Indonesia, seperti yang sudah kami jelaskan bahwa negara Indonesia itu memiliki pulau kurang lebih dari 17.508 buah pulaunya. Nah artinya Indonesia sangat berpotensi sekali dalam kemaritiman antar pulau[7]

 

2.2  Indonesia Negara Maritim Antara Negara Bahari

Negara Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki wilayah lautan daripada daratan. Beberapa bukti bahwa laut lebih luas dari darat (2/3 luas Indonesia adalah laut), permukaan planet bumi juga 73 % adalah air dan sisanya darat. Belum lagi dihitung potensi sumberdaya yang terdapat di laut baik permukaan, kolom perairan maupun dasar laut. Konon penjajahlah yang merubah karakter bangsa menjadi petani. Namanya juga penjajah, selalu mengedepankan ambisinya dengan memperluas perdagangan rempah-rempah dari hasil pertanian ketika itu.

Untuk memastikan negara Indonesia sebagai negara bahari, maka dapat dilihat dari bebrapa peristiwa penting, yaitu:

Pertama; Deklarasi Djoeanda (13-12-1957), dengan tindak lanjut adanya konsep wawasan nusantara, UU No 4/60 tentang Perairan dan UNCLOS 1982. Isi Deklarasi “Bahwa segala perairan di sekitar, di antara dan yang menghubungkan pulau-pulau yang termasuk dalam daratan Republik Indonesia, dengan tidak memandang luas dan lebarnya, adalah bagian yang wajar dari wilayah daratan Negara Republik Indonesia dan dengan demikian merupakan bagian daripada perairan pedalaman atau perairan nasional yang berada di bawah kedaulatan Negara Republik Indonesia. Penentuan batas laut 12 mil yang diukur dari garis-garis yang menghubungkan titik terluar pada pulau-pulau Negara Republik Indonesia akan ditentukan dengan Undang-Undang”

Kedua; Deklarasi Benua Maritim Indonesia di Makassar (18-12-1996), dengan tindak lanjut Konsep Pembangunan Benua Maritim Indonesia, Dewan Kelautan Nasional. Substansinya adalah menyebut Negara Kesatuan RI beserta perairan nusantara, laut wilayah, zona tambahan, ZEE, dan landas kontinennya sebagai Benua Maritim Indonesia. Pembangunan Maritim Indonesia (1998–2004) mencakup aspek : Perikanan, Pehubungan laut, Industri Maritim, Pertambangan dan Energi, Wisata Bahari, Pembangunan SDM, IPTEK dan Kelembagaan Maritim

Ketiga; Deklarasi Bunaken (26-9-1998) dengan tidak lanjut The Ocean Charter.Isi Deklarasi: Mulai saat ini visi pembangunan dan persatuan nasional Indonesia harus juga berorientasi laut. Semua jajaran pemerintah dan masyarakat hendaknya juga memberikan perhatian untuk pengembangan, pemanfaatan, dan pemeliharaan potensi kelautan Indonesia.

Keempat; Berdirinya Kabinet Gotong Royong dan Kabinet Persatuan (1999-2004) dengan tindak lanjut Departemen Eksplorasi Laut, Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan, Dewan Maritim Indonesia. Visi Departemen Kelautan dan perikanan adalah Pengelolaan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan secara Lestari dan bertanggung jawab bagi kesatuan dan kesejahteraan anak bangsa, sedangkan Misi Pembangunan Kelautan dan Perikanan : Misi Kesejahteraan : Meningkatkan kesejahteraan nelayan, pembudidaya ikan, dan pelaku usaha kelautan dan perikanan lainnya; Misi Pertumbuhan : Meningkatkan peran sektor kelautan dan perikanan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi; Misi Kelestarian : Memelihara daya dukung dan meningkatkan kualitas lingkungan sumber daya kelautan dan perikanan

Kelima; Seruan Sunda kelapa (27-12-2001), dengan tindak lanjut Gerbang Mina Bahari yang intinya adalah : Membangun Wawasan Bahari, Menegakkan Kedaulatan Hukum di laut, Mengembangkan Industri dan Jasa Maritim secara Optimal dan Lestari, Mengelola Kawasan Laut, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Mengembangkan Hukum Nasional di Bidang Maritim

Keenam; Undang-Undang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (UU No 27 Tahun 2007), dengan tindak lanjut yang penting antara lain hak pengusahaan pesisir dan pulau-pulau kecil diharuskan adanya kelengkapan dokumen perencanaan (rencana strategis, rencana zonasi, rencana pengelolaan dan rencana aksi.

Dari keenam peristiwa di atas dapat dikatakan bahwa sebenarnya negara Indonesia adalah negara bahari. Hal ini dilihat dari keseriusan pemerintah dalam mencita-citakan kemajuan bangsa dibidang kebaharian. Belum lagi potensi yang besar yang terkandung di dalamnya. Walaupun demikian bahwa dari cita-cita dan potensi besar tersebut.

Untuk membangun negara bahari yang besar diperlukan landasan budaya dan nilai bahari yang kuat. Pembangunan negara bahari tanpa landasan budaya dan nilai bahari yang kuat hanya akan melahirkan eksploitasi kekayaan laut yang tidak terkendali.

Selain itu, dengan belajar sejarah perjalanan bangsa Indonesia di masa lampau, kejayaan negara-negara bahari di Nusantara ditopang oleh kenyataan adanya perpaduan antara kekuatan armada laut[8] dan kemampuan produktifitas di daratan. Jadi, di samping memiliki armada dagang dan angkatan laut yang kuat, negara-negara bahari di Nusantara juga mampu menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan dalam perdagangan baik dalam skala regional maupun internasional.

 

2.3  Potensi Ekonomi

Bangsa Indonesia yang hidup di negara kepulauan pasti akan bersinggungan dan berhubungan langsung dengan dunia maritim. Ketika kita berkegiatan di dunia maritim kita perlu lebih bahu-membahu untuk bekerja keras menghadapi tantangan-tantangan yang ada. Ketika kita di laut kita akan sadar bahwa tidak ada cara lain selain bersatu-padu agar bisa bertahan dan tetap dapat melakukan kegiatan-kegiatan maritim yang ada (sosial, budaya, ekonomi, politik, dan lain-lain).

Salah satu kegiatan maritim adalah bisnis maritim yang merupakan bagian dari kegiatan ekonomi maritim. Banyak orang bicara tentang peluang dan banyak juga orang yang telah mencoba berbisnis di dunia maritim. Ada yang berhasil, ada yang stagnan dan tidak sedikit yang gagal. Bisnis maritim sangatlah luas cakupannya seperti halnya bisnis di daratan maupun udara bahkan luar angkasa. Tetapi tantangan bisnis maritim sangat banyak, selaras dengan peluangnya yang juga masih sangat terbuka. Di lain pihak bisnis maritim juga merupakan hal yang “terjangkau” untuk dikembangkan oleh banyak kalangan di Indonesia (dibanding bisnis luar angkasa misalnya).

 

Contoh potensi ekonomi yang dimiliki Indonesia sebagai negara maritim:

Kejayaan negara-negara bahari di Nusantara ditopang oleh kenyataan adanya perpaduan antara kekuatan armada laut dan kemampuan produktifitas di daratan. Jadi, di samping memiliki armada dagang dan angkatan laut yang kuat, negara-negara bahari di Nusantara juga mampu menghasilkan produk-produk yang dibutuhkan dalam perdagangan baik dalam skala regional maupun internasional.

Dalam hubungan itulah peranan angkatan laut menjadi sangat vital untuk menjaga kedaulatan wilayah negara dari serangan kekuatan asing, mengamankan aset-aset negara, serta menjamin keamanan wilayah laut yang menjadi media produktifitas ekonomi seperti pelayaran, perdagangan, perikanan, pertambangan bawah laut, dan sebagainya. Semuanya itu ditujukan untuk kemakmuran bersama komunitas bangsa.

Oleh sebab itu Angkatan Laut Republik Indonesia seharusnya memiliki peralatan strategis dan operasional yang berteknologi tinggi serta organisasi dan manajemen yang efektif dan efisien. Jika tidak, maka hal-hal yang ironis yang penuh diwamai tragedi akan sering terjadi, misalnya: ketidakmampuan kapal ALRI mengejar kapal-kapal pencuri ikan ataupun perompak.

 

Contoh potensi ekonomi yang dimiliki Indonesia sebagai negara bahari:

Dalam rangka program Visit Wakatobi 2009, diadakan lomba fotografi bawah laut internasional dengan tema “The Beauty of the Nuclei World Coral Triangle” di Kabupaten Wakatobi (www.wakatobi.info), Sulawesi Tenggara dengan total hadiah USD 40.000.

Taman Nasional Laut Bunaken. Perhelatan reli Sail Bunaken yang diikuti sekitar 160 kapal layar mancanegara dan puluhan kapal perang 19 negara, termasuk negara adidaya AS merupakan bentuk pengakuan dunia pada peran strategisnya Indonesia sebagai negara bahari.

Penyelenggaraan ‘World Ocean Conference’ diManadotanggal 11 – 15 Mei 2009. Ternyata usaha itu berhasil dan dunia langsung tergugah untuk mendukung.

Penyelenggaraan ‘World Ocean Conference’ pada saat yang sama digelar pula ‘Coral Reef Triangle Initiative’ (CTI). CTI adalah rencana bersama dari 6 negara di kawasan Pasifik yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini dan Kepulauan Solomon, untuk merumuskan program dan langkah penyelamatan terumbu karang serta mengkaitkannya dengan pensejahteraan masyarakat pesisir.

Sebagai kesimpulan, ‘World Ocean Conference’ dan ‘Coral Reef Triangle Initiative’ memperlihatkan peran Indonesia di bidang kelautan yang menonjol, kedua kalinya sejak Indonesia mencetuskan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957 yang merupakan pemicu dari konsep negara kepulauan, serta merubah hukum laut internasional sehingga mengakui perairan Indonesia sebagai wilayah nasional.

Kegiatan Arung Sejarah bahari adalah kegiatan yang mengarungi sejarah kehidupan manusia dalam lingkup dan tingkat peradban yang telah dicapainya, dalam kegiatan itu mahasiswa mengunjungi obyek-obyek yang berkaitan dengan peradaban bahari. Mereka juga mengarungi laut untuk menuju pulau-pulau penting dalam catatan sejarah kejayaan bahari Indonesia. Lalu, mereka juga berdiskusi bagaimana seharusnya kita memandang laut dan apa yang mestinya dilakukan pada laut Indonesia nan luas itu.[9] (http ://koran.kompas.com).

Potensi kelautan dan peranannya terhadap pembangunan nasional

Sektor kelautan yang didefinisikan sebagai sektor yang mencakupi perikanan, pariwisata bahari, pertambangan laut, industri maritim, perhubungan laut, bangunan kelautan, dan jasa kelautan, merupakan andalan dalam menjawab tantangan dan peluang di masa depan. Kenyataan tersebut didasari bahwa potensi sumber daya kelautan yang besar yakni 75% wilyah Indonesia adalah lautan dan selama ini telah memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi keberhasilan pembangunan nasional. [10]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

3.1  Kesimpulan

 

Indonesia sebagai Negara maritime antar Negara kepulauan sangat terlihat sekali dari pembahasan yang sudah kami sebutkan diatas. Dalam pembahasan itu disebutkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan yang terbesar dilihat dari jumlah pulaunya dan 75% dari keseluruhan daerah Indonesia adalah perairan. Dari setiap pulau di Indonesia memiliki kawasan yang banyak di dominasi oleh perairan (laut). Jadi dari fakta tersebut termuat tulisan yang mengkritisi tentang pemimpin yang bervisi tentang kemaritiman.

Sedangkan Indonesia sebagai negara Maritim dalam negara Bahari, juga sangat terlihat sekali dalam makalah ini, bahwa notabenenya tentang kelautan yang selalu mendominai dalam sejarah ini. Pada pembahasan kami tentang ini, diatas disebutkan tentang adanya perajanjian-perjanjian yang menguatkan indonesia sebagai negara bahari dan negara maritim yang berada di dalamnya.

Dari keseluruhan ini kita juga bisa lihat potensi yang diahasilkan dari aspek –aspek ini, misalnya potensi ekonomi yang bisa didapat dari penghasilan sebagai negara maritim dan negara bahari. Dimana dari potensi ekonomi ini bisa membekali untuk pembangunan Nasional. Adapun contoh-contoh dari kedua sub bab ini sudah sangat jelas dalam pembahasan tadi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SUMBER RUJUKAN

 

Bahan rujukan dari buku:

Ahmadin. 2006. Tana Doang Dalam Catatan Sejarah Maritim Pelautkah Orang Selayar.     Yogyakarta: Ombak.

Dick-Read, Robert. 2005. Penjelajah Bahari. Bandung: Mizan.

Groeneveldt. W.P. 2009. Nusantara Dalam Catatan Tionghoa. Jakarta: Komunitas Bambu.

Lapian, Adrian B. 2008. Pelayaran Dan Perniagaan Nusantara Abad Ke-16 Dan 17. Jakarta: Komunitas Bambu.

Nasution, Arif-dkk. 2005. Isu-isu kelautan dari kemiskinan hingga bajak laut. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tim Penyusun.1998. Buku Pintar Seri Senior.

Bahan rujukan dari internet:

Darwin. 2009. Dunia Akui Bahari Indonesia. (www.google.com) diakses 16 September 2009.

Hari, Harmin. 2009. Benarkah Indonesia Negara Bahari?. (www.google.com) diakses 16 September 2009.

Sabrie, Hakim Benardie. 2008. Bengkulu dalam Sejarah Maritim. (www.google.com) diakses 16 September 2009.

Sulistiyono, Singgih Tri. 2009. AL dan Pembangunan Maritim Indonesia. (www.google.com) diakses 16 September 2009.


[1] Dalam buku Pintar- Seri Senior. 1998. Hal-9. Disebutkan dari keseluruhan luas wilayah Indonesia , maka Dengan perbandingan 1.904.569 km2 luas daratan dan 3.288. 683 km2 luas Lautan, dimana dari perbandingan tersebut kita dapat melihat bahwa sangat wajar kalau Indonesia dikatakan sebagai negara Bahari dan negara Maritim, disamping ada bukti-bukti lain yang menguatkan pendapat ini.

[2] ”Maritim” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-3 tahun 2007, hal- 716. DEPDIKNAS- Balai Pustaka. Disebutkan Bahwa ”Maritim” adalah berkenaan dengan laut, sama seperti Bahari, tetapi Maritim lebih cenderung kepada kegiatan yang berada di atas atau di dalam laut itu sendiri, seperti misalnya berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut.

[3] “Bahari” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke-3 tahun 2007, hal- 88. DEPDIKNAS- Balai Pustaka. Dalam pengertian yang pertama ”Bahari” adalah ” dahulu kala / kuno”, pada pengertian yang kedua ”Bahari adalah ” indah / elok sekali”, dan sedangkan pada pengertian yang ketiga ”Bahari disebutkan bahwa sesuatu yang mengenai kelautan atau bahari. Maka dari tugas tentang sejarah Maritim ini Bahari yang dimaksud adalah Bahari yang mengenai tentang kelautan.

[4] Dalam bukunya Groeneveld, W.P. 2009. Nusantara Dalam Catatan Tionghoa. Jakarta: Komonitas Bambu. Sinopsis. Yang dikutip oleh Lobard, Denys. Dalam Nusa Jawa Silang Budaya II. ”Nusantara merupakan daerah perlindungan yang sangat tua, sejak periode 2000 SM. Nusantara telah menjalin hubungan dengan Dinasti Shang di Cina. Mulai abad ke-18 orang-orang Barat mencoba melacak kembali persentuhan pertama antara negeri Cina dengan Nusantara”. Tetapi dalam hal ini penelitian oleh W.P. Gronevecdt tentang Nusantara dalam catatan Tionghoa yang pertama kali diumumkan pada tahu 1880.

[5] Dalam kutipan yang kami dapat mengenai Peta Pelayaran. Dalam tulisannya Sabrie, Hakim Benarde. 12 Maret 2008. Bengkulu Dalam Sejarah Maritim. www. Google. Com. (online). 16 September 2009. Disitu disebutkan ada beberapa Peta Pelayaran :

  1. Peta pelayaran kuno yang dibuat berdasarkan tulisan geograf Starbo (63 sM – 21 M), merupakan peta jalur pelayaran dari Eropa ke Cina, yang menyebutkan adanya rute pelayaran dunia melintasi Selat Sunda (Indonesia) untuk sampai kenegeri Cina. Hal yang sama juga diungkapkan dalam peta yang dibuat pada tahun 127 – 151 M oleh Claudius Ptolomeus. Peta kuno ini ditemukan pada tahun 165 M, yang menyebutkan adanya “Pulau Emas“ di Nusantara ini.
  2. Idrisi atau Edrisi (1099 – 1154 M) lahir di Ceuta, seorang ahli Ilmu Bumi (Geografi) bangsa Arab-Sepanyol masa pemerintahan Roger II. Risalah yang dibuatnya, merupakan kumpulan isi terpenting dari buku-bukunya terdahulu, juga merupakan gabungan dan lanjutan dari karya Ptolomeus dan Al Masudi tentang peta bumi dan pelayaran. Edrisi membuat risalahnya berdasarkan laporan-laporan asli yang dikirimkan oleh para peninjau, dikirimkan keberbagai negeri untuk menguji kebenaran bahan laporan tersebut. Dengan perbandingan yang kritis, Edrisi telah menunjukan suatu pandangan yang sangat luas, dan memberikan pengertian mengenai kenyataan hakiki tentang kebulatan bentuk bumi. Ia juga berhasil menentukan sumber-sumber air sungai Nil yang berasal dari daratan tinggi khatulistiwa Afrika, termasuk berhasil membuat dari perak, konstruksi bulatan langit dan peta dunia dalam bentuk cakra.
  3.  Peta abad ke-XVII Masehi                                                         .
    Sebuah peta pelayaran abad 1411 M atau 1333 Caka, ditulis diatas lempengan perunggu berhuruf Arab dan berangka tahun Hindhu, nama pembuatnya tidak jelas, namun ada tertulis Syaid Husein Al Saba. Pada peta ini masih menunjukkan adanya sebuah negeri Phalimbham (Sekarang Desa Panimbang) di daerah Pandegelang Propinsi Banten. Negeri Naga atau Nagar (Kp. Naga Tangerang, Banten), Chalava (Kalapa) di Tanjung Priok Jakarta Utara Propivinsi DKI Jakarta sekarang. Negeri Banten yang dimaksud dalam peta itu adalah Pandegelang sekarang, serta negeri Banten sekarang yang dulunya dikenal dengan nama Laboh atau Labuhan. Sementara Sarabon atau yang juga dikenal dengan sebutan Carabon atau Cirebon, tidak disebut-sebut sama sekali dalam peta tersebut. Negeri lainya yang juga disebut-sebut dalam peta itu adalah Chamara (Cemara), Muo (Mauk), Bebongor (Kemungkinan adalah Bogor)                                .
  4. Dalam peta dunia tahun 1553 M dibuat oleh Desellier atas permintaan Raja Henri II menyebutkanjuga adanya kota tua Phalimbham. Hingga saat ini, peta itu masih tersimpan rapih di Museum Kota Praja Dieppe. Untuk dipeta lainnya adalah, peta yang dibuat oleh Petrus Bertius dan Jodocus Hondius pada tahun 1618 M dan peta tahun 1740 M yang diterbitkan Matthnum Seutter. Kedua peta terakhir ini masih mencantumkan nama kota Phalimbham yang berada di Provinsi Banten sekarang.
  5. peta 1618 M dan peta 1740 M tersebut. Peta Nusantara yang dibuat bangsa Eropa itu, kelihatanya telah membagi wilayah kepulauan ini yang terdiri dari Java Maior (Jawa Besar), Java Minor (Jawa kecil), disamping Berunai atau Borneo (Kalimantan). Java Minor terdiri dari pulau Madura, Baly,Celebes, Papoua, Maluku dan pulau-pulau kecil lainnya. Peta ini belum memasukan wilayah Irian Jaya.
  6. Peta kuno Java Maior 1618 M, yang dibuat Petrus Bertius and Jodocus Hondius, menunjukkan adanya perkembangan dan pertumbuhan negeri (kota) baru di Pulau Jawa. Dalam peta Java Maior menunjukan, ada 33 buah negeri atau kota di Pulau Jawa. Di Jawa bagian barat, nama kota baru bermunculan diantaranya, Pandegelang, Banten, Munculan, Tanbara, Tonionjava, Jacatra (Jakarta), Monucoon, Dermayo (Indramayu), Tjoncktave, Sarabon (Carabon atau Cirebon) serta Kota Los Saros (Losari). Nama kota itu melengkapi nama-nama negeri sebelumnya. Peta tahun 1740 M yang dibuat Matthnum Seutter menyebutkan di Pulau Jawa negeri-negeri telah berkembang menjadi 50 kota, yang sebelumnya menurut Petrus Bertius and Jodocus Hondius hanya mencatat sebanyak 33 buah negeri. Selain itu dalam peta 1740 M, telah ada nama Kota Jakarta yang sudah berubah menjadi Batavia. Perubahan kota ini secara resmi terjadi tahun 1619 M, setelah penguasa Jakarta Pangeran Jayakarta Wijayakrama ditangkap dan diasingkan ke Jatinegara Kaum Jakarta Timur.

7. Dll.

 

 

 

[6]  Seperti dikutip dalam tulisannya M Fadjroel Rachman. Tentang Dicari- pemimpin Yang Bervisi Negara Maritim.www. google. Com. (online). 15 September 2009. ” Seharusnya Konferensi Kelautan Dunia (WOC) dan Pertemuan Negara-Negara Terumbu Karang Dunia di Manado, Sulawesi Utara (13-15 Mei),yang diikuti 76 negara dan 11 badan internasional itu langsung memberi inspirasi kepada pasangan capres/cawapres bahwa Indonesia “ditakdirkan” sebagai negara maritim dan manusia maritim”.

Sebuah visi yang akan diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat maupun Pemerintah Indonesia di bidang sosial, ekonomi, politik, budaya, juga keamanan dan pertahanan. Dalam level lokal, nasional,dan global.Tentu saja visi ini terkait langsung dengan kondisi geografis Indonesia di mana 75% wilayahnya berupa lautan atau 5,8 juta kilometer persegi, sedangkan daratannya sekitar 1,8 juta kilometer persegi. Tentu visi besar tentang negara maritim dan manusia maritim akan terwujud bila ada kekuatan politik besar yang mendorongnya, khususnya pemimpin nasional.

Sebab, “Roda sejarah tidak bergerak maju mengikuti pola garis lurus; tetapi, apabila didorong oleh para pemimpin yang berketetapan hati dan terampil, roda sejarah pasti bergerak maju,” (Huntington, Gelombang Demokratisasi Ketiga, 1995). Di sinilah kita bertanya, pasangan capres/cawapres manakah yang bersedia mengusung visi masa depan Indonesia ini.

 

[7] Secara khusus misalnya terhadap tujuh provinsi kepulauan (Maluku, Maluku Utara, Kepulauan Bangka-Belitung, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Kepulauan Riau, Provinsi Maluku), sangat sadar visi negara maritim adalah masa depan mereka, sebab kondisi geografis Maluku, sebagai salah satu contoh, luas lautnya 92,3% dan daratan hanya 7,7%. Dari contoh ini saja dapat dilihat bahwa Negara Indonesia sarat akan visi seabagai negara maritim.

 

[8] Dalam bukunya Dick- Read, Robert. 2005. Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika Penjelajah Bahari. Bandung: Mizan dalam sinopsis menceritakan bahwa penelitian ini mengungkapkan bukti-bukti mutakhir bahwa para pelaut Nusantara telah menaklukkan samudera jauh sebelum bangsa Eropa, Arab, dan Cina memulai zaman penjelajahan bahari mereka. Sejak abad ke-5 M, para pelaut Nusantara telah mampu menyeberangi samudera Hindia hingga mencapai Afrika. Para petualang Nusantara ini bukan hanya singgah di Afrika. Mereka juga meninggalkan banyak jejak dikebudayaan di seluruh Afrika.

[9] Semangat kebaharian mesti dtumbuhkan kepada generasi muda tujuannya supaya mereka paham tentang peradaban maritime dan potensi kelautan dalam peningkatan sumber daya ekonomi. Pembangunan terhadap peradaban bahari seolah-olah di tinggalkan sehingga keberadaan pulau-pulau terluar dan pulau kecil sering diabaikan. Oleh Endjat Djaenuderadjat.

Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang profesional di bidang maritim dan SDM ini hanya bisa di isi dengan mengadakan pendidikan yang berkualitas tinggi di bidang maritim. Oleh capt.Yan Risuandi, ketua STIP.

 

[10] Nasution, Arif-dkk. 2005. Isu-Isu Kelautan dari Kemiskinan Hingga Bajak Laut. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hlm-111.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s