skripsii

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Indonesia merupakan salah satu Negara yang mempunyai jumlah penduduk kurang lebih 222 juta jiwa, kepadatan penduduk diwilayah Negara Indonesia tidaklah sama. Jawa merupakan daerah  yang jumlah penduduknnya paling padat dibandingkan dengan daerah lain. Jawa merupakan pulau yang berada pada 60-80 LS dan 1050-1140 BT, oleh karena itu pertumbuhan penduduknnya sangat cepat. Hal ini menimbulkan permasalahan dalam bidang politik,ekonomi, social, dan budaya bagi pemerintahan di Indonesia.[1]

Luas daratan wilayah indondesia 1. 904.345 km persegi yang terdiri dari kurang lebih 17.508 pulau. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus tahun 1971 adalah 118.460.000 uasaha yang dijalankan pemerintah untuk meratakan jumlah penduduk Indonesia adalah dengan pemindahan penduduk atau yang disebut tranmigrasi. Sebagian penduduk dari daerah yang padat penduduknnya, dipindahkan kedaerah yang masih kosong atau kurang penduduknnya.

Usaha yang dijalankan pemerintah untuk meratakan jumlah penduduk Indonesia adalah dengan pemindahan penduduk atau yang disebut tranmigrasi. Sebagian penduduk dari daerah yang padat penduduknya, dipindahkan kedaerah yang masih kosong atau kurang penghuninnya (Adang maryuni, 1977:31). Dalam undang-undang nomor 3 tahun 1972 yang dimaksud dengan tranmigrasi adalah pemindahan penduduk dari satu kelain daerah

 

[2]

Dengan data tersebut diatas dapat dilihat penurunan presentasi swadaya masyarakat di banding dana dari bantuan pusat, hal ini disebabkan permasalahan antara lain :

Ekonomi pedesaan sendiri dalam desa  mengalami perubahan mencolok: modernisasi pertanian mendatangkan produksi yang lebih tinggi, migrasi ke kota mengakibatkan kelangkaan tenaga kerja di sejumlah tempat yang pada gilirannya kembali mengakibatkan mekanisasi lebih lanjut. Sifat pertanian pedesaan ditahun Sembilan puluhan berbeda sama sekali dengan pola yang umum berlaku ditahun 1970. Waktu itu irama kehidupan dan irama kerja bergantung pada angin muson, yang menentukan kapan orang dapat menanam dan memanen, namun yang paling banyak mencolok adalah mengkotannya pedesaan, karena kontak  dengan kota menjadi lebih kuat maka kehidupan sehari-hari dan repelita III program transmigrasi menjadi prioritas dalam pemerataan penduduk, sebab kebijakan pemerintah mengenai program transmigrasi ini berdampak sesuai yang diharapkan yaitu terciptannya masyarakat yang makmur dan sejahtera. Selanjutnnya dalam rangka pelaksanaan pembangunan nasional yang lebih merata keseluruh daerah diusahakan keserasian laju pertumbuhan antar daerah, antara lain dalam peningkatan perhubungan antar daerah dan antar pulau,  memberikan bantuan dan rangsangan bagi peningkatan pembangunan daerah-daerah yang relatif terbelakang, serta penyebaran penduduk yang lebih merata melalui transmigrasi, yang tadinya daerah asal tidak menjajikan dan menuju daerah yang baru sangat menjanjikan bagi masa depan mereka.

Ikut transmigrasi pun dinilai sangat menguntungkan bagi masyarakat yang melakukan program tersebut, karena transmigrasi yang banyak adalah dari daerah Jawa dan sekitar Pulau Jawa  walaupun mereka harus meninggalkan daerah asal dan akan memulai hidup  didaerah tujuan transmigran yang baru. Hal ini dikarenakan [3]pentingnnya perubahan perekonomian yang harus dilakukan guna menuju kehidupan yang lebih baik dari sebelumnnya. Kesempatan itu sangat terbentang luas dihadapan mereka yang ikut program ini.

Bagi seorang petani yang tinggal di pedesaan meninggalkan sistem sosial lama dan pindah ke sistem sosial dan lingkungan baru yang umumnya keadaannya belum mereka ketahui merupakan sesuatu yang berat. Namun bila mekanisme internal dalam sistem tersebut telah menolaknya, adalah wajar bila perasaan yang demikian tidak ada lagi, malah akan menimbulkan suatu dorongan untuk keluar dari sistem tersebut.

Rasa tidak ingin meninggalkan kampung halaman selalu menjadi polemik karena mereka tidak ada pekerjaan lain dan merubah nasib didaerah Kalimantan utama yang muncul dalam program perpindahan ini sekalipun yang dilakukannya adalah untuk mengubah hidupnya sendiri dan mencari lahan yang baru. Karena kampung yang  Di ibaratkan seperti orang yang ingin terjun kemedan peperangan    melawan perasaan rindu akan tanah kelahiran.

Dalam ketentuan-ketentuan pokok transmigrasi disebutkan bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan sosial, ekonomi, dan pertahanan keamanan serta atas usul menteri, daerah yang dipandang perlu dipindahkan penduduknnya, dapat ditetapkan daerah asal dengan keputusan presiden, pertimbangan-pertimbangan soasial, ekonomi, dan pertahanan keamanan yang dimaksud sebagai berikut:

  1. Padatnnya penduduk dan terbatasnnya lapangan kerja

B.    Areal tanah pertanian yang tidak memungkinkan

  1. Tingkat kesuburan tanah yang tidak menguntungkan

D,    Sering terjadi bencana alam dan ganguan keamanan

Diantara aspek pokok transmigrasi adalah usaha untuk membangun daerah baru yang belum ada basis produksinya. Oleh karena itu transmigrasi pada dasarnnya merupakan     suatu plural development (pembangunan pedesaan) yang ditujukan pada pembangunan pertanian (agro development) dalam angka pembangunan daerah secara integral.

Propinsi Kalimantan Selatan daerahnnya kaya akan hasil buminnya, baik  sektor migas maupun non migas. Dalam catatan sejarah Kalimantan Selatan, pernah sebagai daerah pemasok lada di nusantara untuk kawasan indonesia bagian tengah. Pada abad ke -19 Kalimantan Selatan juga menjadi penghasil emas hitam atau batu bara sehingga ditinjau dari aspek ekonomi Kalimantan Selatan sangat menjanjikan bagi kehidupan sosial masyarakat.

Kabupaten Barito Kuala merupakan salah satu kabupaten di Kalimantan Selatan yang mayoritas masyarakatnnya bergerak dalam sektor pertanian perkebunan, dan banyak sekali terdapat lahan kosong, sampai dirumah penduduk dibelakang rumahnnya di temukan lahan kosong dan juga banyak ditemukan peternakan, sering sekali banyak kita jumpai kambing dan sapi. Barito kuala tercatat pada tahun 2009 berhasil berswasembada beras, sebuah prestasi yang tentunya memberikan dampak yang sangat besar kontribusinya dalam peningkatan kualitas pertanian. Selain itu dari segi perkebunan, karet dan sawit juga menjadi prioritas untuk digalakkan penanamannya. Walaupun  sedikit warga yang menanam tanaman perkebunan yang akan menghasilkan keuntungan yang  tinggi ini.[4]

Karena banyaknya lahan yang terhampar luas dan jenis tanah yang sangat mendukung dalam perkebunan karet dan sawit. Andil pemerintah pun sangat besar. Melalui dinas perkebunan telah di programkan pemberian bibit karet unggul yang masa panenya lebih cepat dari bibit biasa yaitu kurang lebih 5 tahun dapat di panen.

Desa Kolam Kiri Kecamatan Wanaraya Kabupaten Barito Kuala adalah salah satu daerah tujuan transmigrasi, dan kondisi sekarang hampir 80% penduduknnya adalah transmigran Jawa keadaan lahan dan jenis tanah di desa ini  sangat mendukung dalam proses pertanian dan perkebunan, sehingga masyarakat yang sukunya berbeda-beda dan membuat bisa  daerah itu bervariasi sistem pertaniannya.

Di desa ini pertanian dan peternakan menjadi sumber mata pencaharian utama penduduknya sedangkan perkebunan hanya sebagai pekerjaan sampingan bagi mereka. Kebetulan mereka mempunyai keterampilan bertani sebelumnnya dari pada berkebun karet dan kelapa sawit. Daerah ini termasuk penghasil pertanian terbesar di Batola. Dengan adanya peningkatan perekonomian karena didukung dengan keadaan alam yang baik, maka para transmigran mengalami transisi ekonomi dan memilih bertahan di desa ini sampai sekarang.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan dan agar pembahasan terfokus pada permasalahan yang ada, maka ruang lingkup sejarah dan masalah yang akan penulis angkat ialah sebagai berikut :

  1.  Bagaimana kehidupan sosial masyarakat tranmigrasi dari tahun 1982-2010?
    1. Bagaimana perkembangan ekonomi masyarakat dari tahun 1982-1992 sampai periode 2010?
      1. C.       Batasan Masalah

Adapun batasan masalah dalam penelitian ini dibedakan menjadi tiga yaitu batasan masalah, spasial, temporal. Dalam batasan spasial penelitian ini dilaksanakan di Desa Koam-Kiri yang terletak di kecamatan wanaraya kabupaten marabahan kalimantan selatan. Batasan temporal  dalam penelitian ini yaitu pada tahun 1983-2010. Tahun 1983 merupkan tahun penempatan tranmigrasi di desa Kolam Kiri Kecamatan Wanaraya, dan pada tahun 1992 merupakan masa puncak perekonomian. Batasan masalah dalam penelitian ini yakni hanya mengacu pada latar belakang Tranmigrasi Kolam Kiri dan perkembangan ekonomi sosial Tranmigrasi desa Kolam Kiri.

 

  1. C.    Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui latar belakang penempatan dan perkembangan ekonomi sosial di Desa Tranmigrasi Kolam Kiri.

 

  1. D.    Manfaat Penelitian

            Untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang latar belakang perkembangan kehidupan perekonomian didesa wanaraya

Perkembangan perekonomian desa wanaraya ini sangat menarik untuk diteliti,karena sangat langka sekali tentang meneliti desa ini dalam mengatasi lajunnya pertumbuhan perekonomian yang ada di desa. Selain itu belum adanya orang yang menulis tentang perkembangan sejarah pedesaan  yang paling besar di Indonesia ini.

  1. E.      Metode Penelitian

Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Metode historis yaitu prosedur pemecahan masalah dengan menggunakan data atau informasi masa lalu yang bernilai. Metode penelitian adalah semua asas, peraturan, dan teknik-teknik yang perlu diperhatikan dan diterapkan dalam usaha pengumpulan data dan analisis untuk memecahkan masalah di bidang ilmu pengetahuan.  Menurut Louis Gotschalk, metode sejarah adalah proses mengkaji dan menganalisa secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau. Untuk menghasilkan suatu karya sejarah yang objektif dan ilmiah, penulisan ini nenggunakan pendekatan yang dinamakan metode penulisan sejarah yang terdiri dari 4 tahapan yaitu :

  1. 1.   Heuristik

Pada tahap ini dilakukan kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lampau dengan mencari dan mengumpulkan data sejarah yang berkaitan dengan perkembangan perekonomian yang ada dimasyarakat

Dalam mengumpulkannya atau menghimpun jejak-jejak sejarah untuk penelitian tersebut. Dalam hal ini, penulis menggunakan jenis data dan sumber-sumber berupa :

1.1.            Sumber Data

Sumber data yang di gunakan dalam penelitian ini adalah sumber lisan dan sumber tertulis. Sumber tertulis berupa monografi unit pemukiman Tranmigrasi desa Kolam Kiri Kecamatan Wanaraya, sumber lainnya berupa data-data dari Departemen Tenaga Kerja Dan Tranmigrasi Kalimantan Selatan dan sumber lisan berupa wawancara langsung dengan warga desa Kolam Kiri Kecamatan Wanaraya

1.2.            Jenis data

Ada dua jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

         1.2.1.Data Primers

Data primers dalam penelitian ini meliputi data yang di peroleh dari sumber lisan dari hasil wawancara dan sumber tertlis yang berasal dari dokumen yan relevan dengan objek yang diteliti seperti hasil wawancara dengan warga setempat tentang perkembangan sosial ekonomi didesa Kolam Kiri dan dukomentasi berupa foto-foto daerah tersebut

         1.2.1.Data sekunder

Data sekunder ialah inforamasi yang diperoleh dari data tertulis dan riteratur yang relevan dengan penelitian ini seperti buku, jurnal, hasil penelitian dan lain-lain  yang menyebutkan tentang tranmigrasi di Kalimantan Selatan

 

1.2.1 Sumber Tertulis

Sumber tertulis yang dipergunakan dalam penulisan skripsi ini adalah dokumen-dokumen sejarah (arsip), buku-buku penunjang yang menjelaskan tentang organisasi seperti pengembangan organisasi, dasar-dasr perilaku organisasi, Kamus Antropologi, Kamus ilmu-ilmu social, Buku pengantar Antropologi, Buku Sosiologi ruang lingkup dan aplikasinya, Kamus besar bahasa Indonesia dan buku-buku sejarah lainnya yang berkaitan dengan penelitian.

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara yaitu teknik komunikasi langsung antara peneliti dengan sample (responden). Wawancara yang dilakukan menggunakan beberapa instrument pertanyaan dan dilakukan secara santai (free) dan non informal, sehingga informan tidak merasa kaku dengan pewawancara dan dapat memberikan informasi dengan jelas kepada pewawancara.

1.3.                  Teknik Pengumpulan Data

1.3.1.      Wawancara

Yaitu tatap muka dengan informan serta mewawancarainnya secara langsung untuk mencari data yang berhubungan denagn objek bahasan.

1.3.2.      Studi kepustakaan

Yaitu mencari menelaah dan mempelajari buku-buku referensi yang berhubungan dengan masalah ini.

 

  1. 1.         Kritik

Pada tahap ini, penulis melakukan kritik terhadap sumber sejarah yaitu pengujian dan penilaian terhadap sumber -sumber sejarah tersebut. Dalam tahapan ini Dalam tahapan ini dikenal dua jenis kritik, yaitu kritik internal dan kritik eksternal. Kritik internal yaitu dengan melakukan pengujian atau verifikasi terhadap aspek-aspek dalam sumber sejarah. Sedangkan kritik eksternal yaitu dilakukan dengan menguji atau melakukan verifikasi terhadap aspek-aspek luar yang berkaitan dengan penelitian. Dalam penelitian ini penulis hanya melakukan kritik internal (isi sumber sejarah) terhadap apa yang telah dituturkan oleh para informan.

Dalam kritik internal ini, penulis melakukan kritik terhadap apa yang telah dituturkan oleh para informan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dalam tahapan ini penulis memberikan kritik terhadap kredibilitas dari apa yang dituturkan informan.

  1. 2.         Interpretasi

Pada tahapan ini, setelah semua fakta dan data terkumpul dan disusun secara kronologis, maka dapat menarik sebuah kesimpulan atau diperoleh makna-makna yang saling berkaitan dari fakta-fakta yang diperoleh.

  1. 3.         Historiografi

Setelah melalui tahap heuristik, kritik dan interpretasi, penulis melakukan tahap   terakhir dari penelitian sejarah yaitu menuangkannya secara sistematis, analitis dan kronologis dengan seluruh pikirannya ke dalam suatu penulisan karya tulis sejarah yang berjudul

PERKEMBANGAN  PEREKONOMIAN  MASYARAKAT  DESA KOLAM KIRI KECAMATAN WANARAYA KABUPATEN BARITO KUALA TAHUN 1982-2010

  1. F.        Tinjauan Pustaka dan sumber

tahap perkembangan setelah pendudukan jepang dan perang dunia II berakhir, dan diawali seakan-akan denagn halaman baru berupa proklamasi republik Indonesia, tentu men jadi bagian dari studi dan analisa pengarang yang paling utama dan menjadi bagian dari studi dan analisa pengarang yang utama dan mencakup enam bab sendiri.

Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya masyarakat dengan mendorong dan memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinnya serta berupaya untuk mengembangkannya. Keberdayan masyarakat adalah unsur dasar yang memungkinkan suatu masyarakat bertahan.

Landasan historis tranmigrasi adalah politik etis yang dicetuskan oleh Van Devender yang isinnya berupa irigasi, edukasi. Landasan ideology dari tanmigrasi adalah pancasila terutama sila ke-2 yang berbunyi kemanusiaan yang beradap, sila  3 yang berbunyi persatuan Indonesia dan sila ke 5 yang berbunyi keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.

Oleh karena dari petani di pulau jawa itu tidak dapat diharapkan produksi untuk ekspors dan investor swasta eropa tetap enggan menanam  modal untuk membuka perkebunan dengan memakai tenaga kerja “sukarela” pribumi

Munculnnya pusat kegiatan ekonomi seperti pasar desa di berbagai tempat di daerah kerajaan mendorong munculnnya kegiatan baru, yaitu perdagangan keliling. Pola pergerkan penduduk yang diatur menurut hari pasaran itu telah menciptakan satu pola migrasi yang unik.  kegiatan ekonomi di pusat  [5]

Revolusi hijau dengan rekayasa tersebut petani dipedesaan yang masih tradisional secara tegas diperkenalkan dengan budaya modern yang bercirikan rasional, gotong royong secara organis, dan berorientasi pada keuntungan, kehidupan pedesan  yang masih diwarnai dengan budaya gotong royong, kerja sama diantara sesama warga, serta adannya element lain seperti solidaritas     [6]

Transmigrasi sudah hampir 70 tahun merupakan aspek unit pembangunan di Indonesia. Program ini secara kecil-kecilan dimulai pertama kali tahun 1905 oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tujuan memindahkan penduduk pulau jawa yang berlebihan ke pulau-pulau lain dan kemudian usaha tersebut dilanjutkan oleh pemerintah republik Indonesia dengan suatu program berskala yang setiap tahunnya memindahkan ribuan keluarga. Tranmigrasi adalah pemindahan penduduk dari suatu daerah (pulau) yang berpenduduk jarang, sedangakan tarnmigran adalah orang yang berpindah ke daerah (pulau) lain. Tranmigrasi bukan hanya sekedar pemindahan penduduk belaka melainkan pemindahan masyarakat lengap denhagn latar belakiang sosia budayanya

Transmigran sepontan atau swakarya perlu didukung dan di kembangkan oleh semua pihak karena dari segi dana lebih  murah dan dari segi kuwalitas peserta tranmigrasi ini lebih baik karena mereka mempunyai motivasi untuk maju lebih kuat daripada tranmigrasi umum. Tranmigrasi swakarya yang berhasil yang kemudian mengajak saudara dan kenalan.

Hal ini dilihat dari luas negara Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau sehingga terlihat perbedaan yang mencolok dalam tingkat pembangunan, pemusatan penduduk dan perbedaan yang menonjol antara berbagai kultur. Lalu jumlah kelompok etnis yang begitu besar sehingga menimbulkan perbedaan cultural yang kuat. Kemudian ada pertumbuhan Negara yang tidak seimbang karena sumber daya nasional dan pembangunan dipusatkan di jawa.

 

Daftar Pustaka

Davis, g, 1982 “tranmigrasi swakarya: kasus parigi” dalam harjhono, Ed., Tranmigrasi dari kolonialisasi sampai swakarsa. Jakarta :gramedia.

Geertz.C, 1963. Involusi pertanian: proses perubahan ekologi di    Indonesia. Jakarta: Bharata

Harjhono, joan, 1982. Tranmigrasi Dari Kolonisasi sampai swakarsa, Jakarta:Gramedia

Kamtpo utomo, 1957, masyarakat tranmigrasi spontan didaerah Wai sekampung (lampung) disertai IPB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KEADAAN GEOGRAFIS DAN DEMOGRAFI

KECAMATAN WANARAYA

2.1. Keadaan Geografis

Desa-desa tranmigrasi di batola itu tersebar di 10 kecamatan yaitu kecamatan wanaraya, carbon, rantau badauh, barambai, belawang, manadastana, tabunganen, tamban, mekarsari, anjir muara dan anjir pasar, yang paling banyak kontribusinnya di bidang produksi beras ada olah kecamatan barambai dan belawang.

Secara astronomi  Daerah tingkat II barito kuala terletak antara LS : 20-29’50’’ sampai 30 30’ 18’’ B.T: 1140 20’  50’’ – 1140 50’ 18’’   dengan  ketinggian 0.2 sampai 3 m diatas permukaan air laut. Batas kabpaten daerah tingkat II barito kuala : sebelah Utara Kabupaten Hulu Sungai Selatan Dan Tapin, Sebelah Timur Kabupaten Banjar Dan Kodya Banjarmasin, sebelah selatan laut jawa, sebelah barat : Propinsi Dati 1 Kal-Teng (Kabupaten Kapuas), luas daeerah ini adalah 2,996,96 Km2 yang terdiri dari 14 kecamatan

Kalimantan selatan sitinjau dari segi iklimnnya sama dengan daerah lain di Indonesia yakni termsuk iklim tropis daerah ini mendapat pengaruh angin musim barat, barat laut dan angin musim timur dan tenggara.proyek tranmigrasi pasang surut

Proyek tranmigrasi barambai merupakan proyek tranmigrasi pasang surut yang dibuka sejak tahun 1970  Selama pelita 1 di sediakan untuk menempatkan tranmigrasi. Proyekini terletak 1,5 Km sebelah baratsungaI barito, maka proyek barambai terletak didesa barambai terletak didesa barambai, adapaun barambai terletak diantara Banjarmasin dan marabahan, jarak antara barambai dan banjar masih 40 km, sedangkan marabahan terletak 55 km.

Kolam kiri merupakan daerah rawa-rawa pasang surut yang dipengaruhi gerak langsung dan tidak langsung  dari permukaan air laut. Pada saat pasang air sungai meluap kedaerah rawa-rawa sekitarnnya dan waktu surut kembali kesungai sehinga terjadi proses pencucian terhadap daerah-daerah rawa. Hal tersebut dapat mengurangi keasaaman tanah sehingga dapat digunakan tujuan pertanian. tinggi permukaan air antara pasang dan surut sekitar 130- 140 cm, diadmping tanaaman padi, jagung dan ubi kayu juga telah ditanam pula berbagai macam tanaman keras seperti misalnnya kelapa, cengkeh kopi, jeruk,karet,kelapa sawit dan rambutan serta nangka.

2.1.1. keadaan demografi

Jumlah penduduk yang ditemukan hanya jumlah penduduk wanaraya dan daerah yang terlihat dalam tabel ini yaitu jumlah penduduk wanaraya dan sidomulyo tahun 2006 sampai dengan 2009

Table   : 1. Jumlah penduduk menurut kelompok umur di Kabupaten Marabahan

KELOMPOK UMUR

JENIS           KELAMIN

JUMLAH

LAKI-LAKI

PEREMPUAN

0-4

16.063

13.167

29.033

5-9

11.903

12.668

24.414

10-14

13.809

12.030

26.707

15-19

12.231

11.560

23.591

20-24

12.198

14.258

26.482

25-29

13.558

13.784

27.293

           30-34

10.962

13.807

24.671

             35-39

            12.139

            13.029

             24.714

40-44

91.50

84.89

17.226

45-49

64.74

85.00

14.561

50-54

6.336

5.610

11.387

55-59

4.562

5.059

9.110

60-64

2.962

3.040

5.633

65-69

1.614

1.505

3.057

       

2.1.2 iklim dan hidrologi

Curah hujan merupakan salah satu indicator wilayah untuk mengetahui  kondisi tanah dalam suatu wilayah. Keadaan cuaca ini banyak mempengaruhi semua kegiatan pembangunan, baik yang berhubungan langsung dengan kegiatan yang bersangkutan dengan wadah pembangunan itu sendiri yang berupa tanah. Tercatat curah hujan rata-rata berkisar antara mm/tahun atau  mm/bulan atau 161 mm/bulan. Menurut klasifikasi iklim oldeman,kabupaten marabahan berada pada kelas C2, C3, dan D3 dengan ranking kebebasan antara 5-8 keadaan iklim di kabupaten Marabahan dipengaruhi dua musim yaitu musim hujan dan musim panas. musim hujan terjadi antara bulan November hingga bulan april denagn temperatur 170C. sedangkan musim panas terjadi antara bulan juni hingga bulan November dengan temperatur mencapai 350C. kelembapan udara berkisar antara 51% sampai dengan 86 % kondisi hidrologi di wilayah wanaraya  dipengaruhi oleh sungai barito (beserta anak-anaknnya sungai) yang merupakan anak sungai

Kondisi hidrologi juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi draenase tanah yang ada wilayah tapin. Hampir sebagian besar wilayah wanaraya tergenang secara permanen yaitu berupa rawa dengan luas wilayah sekitar  hektar atau 61% dari total luas wilayah tapin.wilayah yang tidak pernah tergenang air

2.1.3        Keadaan Ekonomi

Kemajuan perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari PDRB yang dihasilkan oleh daerah tersebut. Selama tahun 2008. Kabupaten tapin mampu menghasilkan nilai tambah bruto ADHB sebesar Rp. 3.033.436.61 Dan ADHK sebesar Rp.1829.055.09. Dengan pertumbuhan mencapai,  sedangkan PDRB perkapita ADHB mencapai  Rp.2.211.322.10/jiwa/tahun dan PDRB perkapita ADHK mencapai Rp,1.315.551.25/jiwa/tahun. Perekonomian kabupaten didukung oleh sector pertanian dengan sumbangan sebesar 50%, pertambangan dan penggalian (20      %) dan jasa ( 10 %). Pada tahun 2010, dapat dilihat bahwa semua sector mengalami pertumbuhan yang positif. Sector dengan pertumbuhan tertinggi adalah banyak dan lembaga keuangan sebesar 70/0,  dan bangunan  (5 %). Sedangkan sektor pertanian  menunjukan pertumbuhan terendah sebesar 5%. (Monografi desa kecamatan wanaraya kabupaten marabahan) jumlah penduduk menurut jenis kelamin  wanaraya yaitu laki-lakinnya pada tahun 2002 wanaraya laki-laki 6.634 perempuan 6.428, pda tahun 2006.

 

 

 

 

 

2.1.4 Keadaan Unit Pemukiman Tranmigrasi desa wanaraya

Desa tranmigrasi kecamatan wanaraya pada awalnnya berdiri pada tahun 1995 dengan luas wilayah 37,56 Km2. Mulannya daerah ini berbentuk UPT dan Unit pemukiman Tranmigrasi dan belum berbentuk desa. Secara astronomis terletak pada 140 20’50’’BT- 114’50 18”BT-2 29’50”LS-3 30’18”LS.

Selain itu bila dilihat secara ekonomis letak pemukiman Tranmigrasi Kecamatan Wanaraya ini + 2 km dari ibu kota kecamatan ­,  19 km dari ibu kota kabupaten, +110 km dari ibu kota propinsi.

Batas-batas desa tranmigrasi kecamatan wanaraya ini adalah sebagai berikut:

1           sebelah utara dengan Kecamatan Tabukan,

2           sebelah selatan dengan Kecamatan Anjir Muara dan Kecamatan Anjir Pasar,

3           sebelah timur dengan Kecamatan Barambai dan Kecamatan Belawang,

4           sebelah barat dengan Kab. Kapuas Prov. Kalimatan Tengah.

Luas daerah menurut kelurahan yaitu/ desa kecamatan wanaraya, Daerah Kolam-Kiri 2.50, Jumlah  bangunan tempat tinggal berdasarkan desa dan kualitas bangunan yaitu deda kolam kiri bangunan permanennya 42 buah, bangunan semi permanenya 116 yang tidak permanen 261 buah dan jumlahnnya bangunan itu adalah 419 buah.

Mata pencaharian penduduk tranmigrasi Desa Kolam-Kiri sebagian besar adalah pegawai negeri, TNI, Polri, perpetani karet dan petani bahan pangan karena memang kontur daerahnnya yang berjenis lempung atau kriston dan berstektur kasar   dan mempunyai tingkat kesuburan yang sedang.

Fasilitas-fasilitas yang ada di desa tranmigrasi kolam kiri ini adalah sebagai berikut:

  1. balai desa, kantor desa, masjid, musholla, sekolah
  2. jalan desa
  3. jalan kabupaten
  4. bendungan/tabat/ dam 1 buah

 

bentuk desa dari segi tata ruang, desa Tranmigrasi Kolam Kiri ini adalah mengelompok dan bergelombang, sehingga pada musim kemarau Desa Kolam Kiri cukup kesulitan untuk mendapatkan air bersih, apalagi kebanyakan air sumur yang sangat masam, topografi atau bentuk pemukiman tanah desa Kolam Kiri ini adalah datar (0 O/O sampai dengan 0,5O/O bergelombang (8O/O sampai dengan 30 O/O), berbukit (3O/O sampai dengan 15 O/O), lain-lain( 0O/O sampai dengan 15O/O) factor iklim yang

Curah hujan tahunan                :  10-20 mm

Curah hujan bulanan                 :   8 mm

Kelembapan udara rata-rata     :         O/O

Suhu/temperatur udara             :

Musim hujan                             :

Musim kemarau                        :

Tata guna air di gunakan untuk sumber air keperluan sehari-hari, masyarakat Desa Kolam Kiri menggunakan air sungai dan air sumur galian,  air hujan dan air bekas galian tanah liat atau lempung. saat ini desa tranmigrasi kolam kiritelah berstatus eks tranmigrasi.

Pemilihan `lahan perkebunan yaitu ada 100 keluarga, dan tidak memiliki 200 keluarga dan luas wilayah menurut penggunaan yaitu luas daerah kolam kiri yaitu 280 ha dan banyak luas perkebunan 8 ha/m2 dan banyak luas perkebunan 8 ha, dan banyak lagi luas kuburan 1,5 ha/\m2 dan perkantorannya 5 ha/m2.

                Pemukiman lahan perkebunan jumlah keluarga memiliki tanah perkebunan 100 keluarga dan lebih banyak tidak memiliki 200 keluarga  jumlah keluarga memiliki tanah perkebunan dan memiliki kurang dari 5 ha 700 keluarga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

LATAR BELAKANG MUNCULNNYA TRANMIGRASI DI KABUPATEN MARABAHAN

 

2.1.Latar Belakang Umun Dibukannya Unit Pemukiman Tranmigrasi

Tranmigrasi pada dasarnnya merupakan pembangunan wilayah dalam rangka peningkatan taraf hidup serta pemanfaatan sumber daya alam dan manusia dalam menciptakan kesatuan dan persatuan bangsa melalui program terpadu dan lintas sektoral. Menurut undang-undang nomor 3 tahun 1972 tentang ketentuan-ketentuan pokok tranmigrasi, yang dimaksud tranmigrasi adalah pemindahan atau kepindahan penduduk dari satu daerah untuk menetap kedaerah lain yang ditetapkan dalam wilayah republik Indonesia guna kepentingan pembangunan Negara atau atas alasan-alasan yang dipandang perlu oleh pemerintah berdasarkan ketentuan-ketentuan yang diatur oleh undang-undang.

Dalam perkembangannya semenjak masih bernama kolonialisme di zaman pemerintahan Hindia Belanda, zaman kemerdekaan dan tahap-tahap awal repelita, kebijakan tranmigrasi lebih bersifat demografi sentris. Indonesia adalah Negara yang subur dan memliki banyak kekayaan yang melimpah. potensi keanekaragaman hayati tersebut merupakan salah satu yang terbesar di dunia setelah Zaire dan brazil. Kekayaan sumber daya alam ini adalah anugerah dari sang pencipta yang harus bisa dimanfaatkan seefesien mungkin untuk besar-besarnnya kemakmuran rakyat. Untuk dapat memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah tersebut, pasti diperlukan sumber daya manusia yang melimpah pula. namun sayangnnya potensi sumber daya mannusia itu.

Pola tranmigrasi sebenarnnya sudah cukup lama di kenal oleh bangsa Indonesia. Menurut sejarah, program tranmigrasi awalnnya di selenggarakan oleh pemerintah kolonial Belanda pada masa penjajahan dengan nama kolonialisasi pertanian. Pada masa itu secara tidak langsung pemerintahan kolonial belanda telah menerapkan pola tranmigrasi dengan membawa banyak orang pribumi untuk melakukan ekspansi ke pulau-pulau yang memiliki potensi sumber daya alam yang banyak.

Kebijakan mengenai ketranmigrasi diatas, jelas bahwa tranmigrasi  adalah suatu program yang sangat bijak dalam mengatasi masalah kependudukan. Tujuan utama tranmigrasi sesuai dengan pengertiannya adalah dalam rangka penyebaran penduduk yang merata di seluruh wilayah Indonesia, selain itu, tujuan lain dari tranmigrasi sesuai dengan konteks kehidupan bangsa Indonesia saat ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat mengurangi pengangguran dengan menciptakan lapangan kerja baru di sector informal, mengembangkan potensi sumber daya alam.

Factor-faktor penyebab dilaksanakannya tranmigrasi

  1. Faktor kependudukan, Indonesia mengalami permasalahan di antarannya persebaran penduduk yang tidak merata. Penduduk Indonesia 61,1 0/0, tinggal di pulau jawa dan Madura, sedang luas pulau Jawa dan Madura hanya 6,90/0 dari luas seluruh wilayah Indonesia, jelas bahwa pulau jawa berpenduduk sangat padat, sedang pulau-pulau lain, seperti pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan iriyan jaya berpenduduk sedikit.oleh karena itu
  2. Faktor ekonomi, sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor pertanian, sedang para petani di jawa rata-rata hanya memiliki lahan 0,3 hektar. Petani karet sebagai komuditas pertama dan padi dan masih banyak menjadi penjual sayur-mayur dipasar.
  3. Faktor lain dilakasanakannya tranmigrasi adalah karena bencana alam, daearahnya rawan terhadap bencana alam, daearahnya terkena proyek pembangunan misalnnya akan  dibangun waduk.

2.2. Awal Penempatan Dibukannya UPT Desa Kolam Kiri Kecamatan Wanaraya Kabupaten Marabahan    

Selain karena kurangnnya jumlah penduduk di kecamatan wanaraya, yang menjadi alasan pemerintah pusat untuk menjadikan kecamatan wanaraya sebagai tujuan tranmigrasi alasan pemerintah pusat untuk menjadikan Kabupaten Marabahan sebagai tujuan tranmigrasi, daerah tujuan tranmigrasi di kabupaten marabahan

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PERKEMBANGAN EKONOMI SOSIAL DI DESA TRANMIGRASI DESA KOLAM KIRI  KECAMATAN WANARAYA KABUPATEN MARABAHAN

 

4.1 Perkembangan Perekonomian Desa Tranmigrasi Kolam Kiri

Perkembangan perekonomian Di Desa Kolam Kiri dibagi menjadi enam periode yang dimulai dari tahun dari tahun awal berdiri atau penempatannya yaitu tahun 1983. Adapun pembagian tahap perkembangan perekoonomian desa Kolam Kiri terbagi sebagai berikut:

4.1.1. periode pertama :        tahap penempatan

Merupakan tahap awal penempatan para tranmigrasi yang berasal dari luar daerah dan sebagian besar berasal dari pulau jawa dan sekitar Kalimantan. Pada tiga tahun pertama para tranmigran sedang dalam masa adaptasi, sehingga mata pencaharian utama para penduduk didesa utama para penduduk di desa kolam kiri ini adalah bertani dan berkebun. Dalam masa konsolidasi

 

 


[1] Tranmigrasi pulau jawa  pertumbuhan penduduk

[2] BPS Kabupaten Barito Kuala

[3] Tranmigrasi desa kolam kiri kecamatan wanaraya,

[4] Tranmigrasi barito kuala

 

[6]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s